Umroh Backpacker 2015 Part 3 – Sembilan Jam di Udara

This entry is part 4 of 7 in the series Umroh Backpacker

Lanjutan dari Part 2

Pukul 17:00 pesawat mendarat dengan selamat di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah. KL – Jeddah memakan waktu perjalanan sekitar 9 jam 30 menit, dengan waktu transit di Kuala Lumpur 3 jam, dan perjalanan dari JKT – KUL 2 jam.

View KLIA2 dari ruang tunggu

Total waktu perjalan +-15 Jam. Tapi eits tunggu dulu, apa gak salah hitung? Berangkat pk 06:25, sampai Jeddah pk 17:00, total waktu 10 Jam 45 menit dong??? Jawabannya, karena perbedaan waktu brayyy, Jakarta – Jeddah selisih waktu 3 jam, memang di Jeddah pk 17:00, tapi di Jakarta udah pk 20:00.

Pesawat yang kita naikin dari KL ke Jeddah berkode D7 172 , jenis pesawatnya Airbus A330 dengan kapasitas 377 penumpang, dengan formasi kursi 3-3-3 di bagian lambung, dan 2-3-2 di bagian ekor. Terdapat 7 toilet, 8 pintu keluar, 6 ayunan bayi, 12 premium flat bed, 12 Hot Seat, 54 Quiet Zone dan sisanya kursi standard (mohon dikoreksi jika keliru). Pesawat ini dioperasikan Airasia X Berhad, berbeda dengan pesawat dari JKT – KL dengan kode QZ yang pastinya lebih kecil dan lebih sempit dibanding D7.

Suasana boarding kabin pesawat Airbus A330 KUL – JED

Bosen juga ternyata kelamaan mengudara hampir 9 jam lebih, mana di pesawat gak ada TV dan HP gw terpaksa dimatiin (penumpang yang taat aturan). Akhirnya gw cuman bisa  merem melek begitu seterusnya, sampai akhirnya ada suara yang menarik perhatian di belakang kursi.

Salah satu jamaah dari Depok sedang ngobrol dengan penumpang lain dengan bahasa Inggris, yang dari penampilannya sepertinya orang Arab. Karena mati gaya gak tau lagi mesti ngapa-ngapain selain nengok ke jendela sampai sakit leher, masuklah gw ke obrolan mereka berdua.

Setelah memperkenalkan diri, tahu lah kita bahwa orang tersebut bernama Ramoozy, asli Yaman, tinggal di Jeddah. Dia mahasiswa diploma jurusan Bahasa Inggris di Malaysia yang baru menyelesaikan studinya. Kita ngobrol macem-macem mostly tentang si Ramoozy ini, seperti kenapa kok kuliahnya di Malaysia (kenapa gak di Indonesia???? hahaha), kenapa ambil Bhs.Inggris, abis kuliah mau ngapain dll. Kita ngobrol cukup lama, ngalor ngidur, sampe habis topik pembicaraan. Akhirnya karena ngantuk kita semua tertidur dan baru bangun lagi ketika terdengar arahan dari pengeras suara bahwa sebentar lagi kita lewat di atas Miqot. Miqot artinya tempat dan waktu untuk mulai berpakaian ihram untuk pria dan mulai melafalkan niat ihram “Labaika Allahumma ‘Umrotan'”. Cuman karena menurut itinerary kita ke Madinah dulu baru ke Mekah, maka kita gak ganti pakaian.

Di pesawat itu juga ada rombongan dari Sulawesi. Sebelah gw duduk ibu-ibu yang baik banget, mungkin miris lihat gw yang persiapan seadanya, bahkan buku petunjuk umrohpun gak punya. Si Ibu dengan ikhlasnya ngasih buku mini petunjuk umroh dan sedikit banyak menjelaskan secara singkat tentang tata cara umroh. Masih ya Ibu, ilmunya sangat bermanfaat, semoga Allah membalas semua kebaikan Ibu.

Sementara jamaah dari Sulawesi pada ganti pakaian dengan kain ihram, gw kembali duduk sambil memandang ke luar pesawat. Pemandangan di luar pesawat berubah gak lautan lagi, tapi bukit gersang dan padang pasir.

Perbukitan gersang

Gak lama terdengar lagi pengumuman melalui pengeras suara bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat. Saat itu sebenernya kaki dah mulai gak sabar pengen segera nginjek daratan, maklum kelamaan di pesawat posisi duduk pegel juga ini punggung. Si Ramoozy kayaknya udah mulai siap-siap juga.

Gak lama pesawat mendarat sekita pk 17:00. Dalam hati gw bersyukur, makasih ya Allah perjalanan lancar sampai tujuan. Sebelum turun dari pesawat gw tukeran nomor kontak sama si Ramoozy, dia bilang kalo perlu bantuan kontak dia,kalau bisa dia bantu dia akan bantu.

Pelataran Bandara King Abdul Aziz, Jeddah

Bersambung ke Part 4 😀

Series Navigation<< Umroh Backpacker 2015 Part 2 – Persiapan UmrohUmroh Backpacker 2015 Part 4 – Jeddah >>
Share

You may also like...