Umroh Backpacker 2015 Part 4 – Jeddah

This entry is part 5 of 7 in the series Umroh Backpacker

Lanjutan dari Part 3

Kesan pertama menginjakan kaki di Jeddah adalah, “Gerah”! Wajar lah ya karena Jeddah seperti kota-kota di jazirah arab dan afrika utara pada umumnya memiliki Iklim Gurun Panas atau bahasa Ciamisnya “Hot Desert Climate  (BWh)” hehe. Kondisi ini menyebabkan sebagian besar jazirah arab memiliki suhu udara yang panas karena matahari bersinar terik sepanjang tahun. Selain itu juga curah hujan yang kecil menyebabkan sedikit vegetasi yang bisa tumbuh di sini, mungkin cuman pohon kurma dan kaktus yang bisa tumbuh subur tanpa perlu rajin disiram, yang lain kayaknya perlu siraman yang cukup, apalagi siraman rohani.. loh(????)

Setelah semua jamaah turun dari pesawat di North Terminal Bandara Internasional Abdul Aziz kita  bergegas menuju loket imigrasi untuk pengecekan passport. Tiba-tiba teringat tulisan di forum internet tentang jamaah umroh backpacker yang bermasalah dengan Muassasah sampai-sampai passportnya ditahan selama umroh. Tunggu dulu, siapa itu muassasah?

Muassasah adalah Penyelenggara Umrah di Saudi Arabia yang di tunjuk oleh Kementerian Haji Saudi untuk menerbitkan MOFA. MOFA ( Ministry of Foreign Affairs) , adalah voucher konfirmasi dari Kementerian Haji Saudi untuk calon Jamaah Umrah, berdasarkan quota yang tersedia. Singkatnya, muassasah adalah travel agent resmi di Arab Saudi khusus menangani umroh dan haji.

Kisah tentang backpacker yang bermasalah dengan Muassasah cukup bikin khawatir  karena passport itu identitas kita selama di luar negeri, gile aja kita keluyuran di negeri orang tanpa dokumen pengenal, kalau kena rajia polisi arab kan berabe, bisa-bisa dianggap TKI ilegal. Sebenernya kekhawatiran gw gak perlu karena berkat bantuan Gan Faisal gw dapat rombongan. Kalau berangkatnya rombongan, asumsinya pasti sudah ada muassasah yang mengkoordinir selama tinggal di sini, jadi gak akan ada yang curiga.

Tapi sekedar share saja, Si solo backpacker ini entah lagi gak hoki atau gimana, ketika selesai urusan imigrasi, gak lama ada perwakilan muassasah nanya dia sama group mana. Karena dia datang sendirian dan gak pake travel agent, perwakilan muasasah tadi lantas ngambil passportnya si backpacker ini dan ngasih foto copy-an sebagai gantinya, janjinya nanti passport asli dibalikin pas dia mau balik ke Indonesia. Mungkin perwakilan muassasah yang ambil passport ini cuman mastiin bahwa si backpacker bener-bener jamaah umroh dan gak akan overstay. Untungnya perwakilan muassasah nya baik, bahkan si solo backpacker ini dianterin sampai hotel dia nginep. Tapi anehnya ada juga kasus dimana backpacker lain gak dicegat muassasah, contohnya Gan Faisal ini. Doi tiba di North Terminal juga dan selesai imigrasi dia keluar area bandara tanpa hambatan. Bingung kan? sama haha.

Proses Imigrasi Bandara King Abdul Aziz

Ada cerita aneh ketika proses imigrasi. Pas giliran gw maju, si petugas imigrasi meriksa sidik jari gw satu-satu dan lamaaa banget, ada kali 5-10 menit, entah jari tangan kanan gw kebanyakan (gw cek masih lima biji kok), atau mungkin sengaja dilama-lamain sama si petugas (dikerjain). Saking penasarannya nanyalah gw dalam bahasa inggris apakah ada masalah? kok lama banget? Dia jawabnya singkat, udah gitu cepet, udah gitu pake bahasa arab T_T. Gw sampe nengok kanan-kiri barangkali ada yang bisa bantu translate, tapi yang lain juga kayaknya gak ada yang faham atau gak bisa nolong juga karena jamaah di belakang gw pada berdiri di belakang garis antrian, dan jamaah yang udah beres imigrasi pada ngambil bagasi. Akhirnya gw pasrah stuck di loket imigrasi sama si petugas dengan kondisi jari-jari gw dipegang2 gak jelas. Gw hanya bisa bersabar sambil tentunya minta si petugas untuk mempermudah proses imigrasi. Gak lama kayaknya si petugas kasihan , akhirnya dia keluarin stempel imigrasi dan dicaplah itu passport hijau. الحمد لله

Setelah semua jamaah melewati imigrasi dan bagasi terkumpul, seorang dari travel agent menyambut kita di pelataran bandara. Lupa namanya siapa, yang pasti dia dan Gan Faisal rekan bisnis, karena orang ini yang diminta Gan Faisal untuk menyediakan transportasi, hotel dan city tour selama di sini. Ohya, status gw disitu adalah Perwakilan dari Gan Faisal, dan gw dititipkan dengan jamaah bogor dan depok ini selama umroh sehingga untuk transportasi gw gak perlu bayar. hehe

Selesai sholat orang travel ini mengarahkan kita untuk naik bis yang sudah stand by di area penjemputan. Bisnya cukup besar dan adem. Bispun melaju dengan santai, di tikungan pas lampu merah gak jauh dari Bandara bis berhenti dan masuklah Muthowif. Muthowif adalah orang yang bertugas memandu jamaah selama umroh, ngejelasin sejarah dari tempat-tempat yang dikunjungin selain tentunya sebagai translator bahasa arab.

Di dalam bis dia memperkanalkan diri, namanya ustad Khozin, perantauan dari Madura dan sudah belasan tahun kerja di Arab Saudi. Setelah berkenalan dia langsung membagi-bagikan nasi kotak, pengertian sekali Ustad Khozin ini, tahu aja kalau kita dah kelaparan. haha. Menu makanan malam itu adalah nasi ayam penyet  khas indonesia, termasuk sambel terasinya yang mantap. Malam itu adalah pertama kalinya mengisi perut setelah tiba di Jeddah, dan kesan pertama dengan penyajian makanan di Jeddah (Madinah & Mekah juga) adalah porsinya BANYAK!

Saat itu waktu  sudah menunjukan pukul 20:00. Perjalanan Jeddah – Madinah memakan waktu +- 4 jam dengan total jarak +- 401 km, sehingga perkiraan tiba di hotel tengah malam dengan kecepatan 100kmk/jam. Oh ya berbeda dengan di Indonesia, di Arab posisi stir mobil di sebelah kiri dan mobil melaju dari lajur kanan, jadi hati-hati kalau mau nyebrang disini, nengoknya ke kiri, jangan kekanan, apalagi ke atas.

Karena sudah gelap, gak ada yang bisa dilihat di luar jendela, kecuali lampu-lampu mobil yang berlalu lalang. Ngomong-ngomong soal mobil, di sini mobilnya keren-keren, namun sayangnya angkutan umum dari Bandara ke Mekkah / Madinah jarang. Hasil googling, bis umum yang melayani rute Jeddah – Mekkah atau Jeddah – Madinah adalah Bis Saptco (Saudi Public Transport Company), semacam Damri kali ya kalo di Indonesia. Itupun kita mesti naik taksi dulu ke terminal bis saptco, baru sambung naik bis ke Jeddah / Mekkah.

Jadwal Bis Saptco

Alternatif lain selain Bis Saptco adalah taksi. Namun baiknya kalau naik taksi patungan aja biar bisa nawar murah, karena disini juga supir taksi suka nembak harga.

Kembali ke topik. Dengan perut kenyang dan badan lelah ditambah AC bis yang dingin, akhirnya gw tertidur di dalam Bis. Perjalanan ratusan kilo ke Madinah tidak terasa, tahu-tahu Muthowif pengumuman lewat pengeras suara kalau sebentar lagi kita tiba di Kota Madinah.

Bersambung ke Part 5

Series Navigation<< Umroh Backpacker 2015 Part 3 – Sembilan Jam di UdaraUmroh Backpacker 2015 Part 5 – Madinah >>
Share

You may also like...