Project Happiness : Mencari Bahagia Bersama Air Asia

 
Project Happiness adalah tentang misi mencari kebahagiaan, dan bagaimana AirAsia membantu mewujudkannya.

Suatu hari saya membaca berita tentang fenomena salary man di Jepang atau saya menyebutnya kuli berdasi, yaitu istilah untuk orang dengan jam kerja yang panjang, kerja dari pagi hingga larut malam, 16 jam per hari dari senin hingga jumat, 80 jam per minggu. Pulang kerja masih harus minum-minum dengan kolega dan wajib ikut sehingga baru bisa pulang tengah malam. Paginya harus sudah berangkat kerja dan pukul 07:00 harus sudah berada di kantor. Hingga media mengilustrasikan salaryman sebagai orang masih dengan pakaian kerja yang tertidur di kursi kereta dalam perjalanan pulang atau tertidur di sudut jalan dan trotoar, untuk menggambarkan betapa beratnya hidup seorang salaryman. Ada istilah “Karoshi” di Jepang yaitu orang yang meninggal karena kelelahan bekerja. Tahun 2017 Kementerian Tenaga Kerja Jepang melaporkan terdapat 190 kasus karoshi dan kasus bunuh diri disebabkan waktu kerja yang tidak masuk akal. 

Sejak kalah dalam Perang Dunia ke-2, Jepang bekerja keras membangun ekonominya hingga maju seperti sekarang. Namun dibalik pencapaian ekonominya, ada sisi negatif. Jepang menjadi negara dimana bunuh diri menjadi penyebab kematian utama dibandingkan penyebab lain seperti kecelakaan atau penyakit. Ada satu hutan di Jepang bernama hutan Aokigahara yang berlokasi di dekat gunung Fuji. Hutan ini digunakan orang-orang untuk bunuh diri dengan jumlah kasus bunuh diri pada tahun 2009 melonjak dari 641 menjadi 23,472 hingga pemerintah turun tangan. Tidak cukup disitu, Jepang juga mengalami fenomena demografi yang disebut “Population Ageing” dimana jumlah lansia usia 60th+ di sana lebih banyak dibanding jumlah anak-anak. Tahun 2014, 33% populasi jepang adalah lansia usia di atas 60th. Biaya hidup yang tinggi menjadi sebab muda-mudi jepang menunda untuk memiliki keturunan dan lebih memilih melajang.

Fenomena yang sama tidak hanya terjadi di Jepang, namun juga negara tetangganya. Korea Selatan berada di peringkat ke-10 negara dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia sekaligus menjadikan bunuh diri sebagai penyebab kematian ke-4 terbesar di negeri gingseng tersebut. Masih segar di ingatan tahun 2019 jagat dunia maya dihebohkan dengan kematian empat artis K-Pop: Jeon Min Seon, Woo Hye Mi, Sulli dan Goo Hara. Tidak ada yang menyangka popularitasnya sebagai artis malah membawa tekanan yang luar biasa hingga bunuh diri menjadi jalan keluar. Selain itu di tahun 2017, Korea Selatan resmi menjadi negara dengan jumlah lansia lebih banyak dari jumlah anak-anak sama seperti yang telah terjadi di Jepang di tahun 2014.

Apa yang terjadi di Jepang dan Korea Selatan bisa terjadi di negara lain termasuk Indonesia. Juli 2019 seorang CTO (Chief Technology Officer) sebuah start up lokal dikabarkan meninggal dunia di usia 39 tahun. Beritanya viral di media sosial karena banyak yang mempertanyakan, bagaimana mungkin seseorang yang sedang berada di puncak karirnya, masih muda tiba-tiba dikabarkan meninggal dunia. Tidak disebutkan tentang penyebab kematiannya, sehingga beberapa asumsi bermunculan, termasuk asumsi kelelahan dalam bekerja seperti fenomena “Karoshi” yang terjadi di Jepang. Namun apapun penyebabnya, kematiannya harus menjadi alarm untuk para generasi muda supaya memiliki pola hidup yang seimbang antara mengejar karir dengan menjaga kesehatan fisik dan mental.

Ada banyak pelatihan tentang manajemen stres, dimana inti dari pelatihan itu juga sebenernya mengajarkan tentang keseimbangan. Fisik kita berhak untuk mendapatkan tidur yang cukup, olahraga yang teratur dan asupan makanan yang bergizi. Mental kita perlu mendapatkan ketenangan pikiran, misal dengan meditasi, ibadah atau refreshing. Dua hal ini penting diperhatikan, tidak cukup hanya mengejar karir. Rutinitas kerja tanpa memperhatikan kesehatan fisik dan mental, pada akhirnya hanya akan membawa petaka, seperti fenomena “karoshi” di Jepang yang berujung maut.


Terinspirasi dari teman saya yang selama 4 tahun kuliah hanya komunikasi lewat facebook, akhirnya saya menemukan cara manajemen stress yang cukup efektif. Saat itu saya sedang scroll wall dan tiba-tiba sebuah foto muncul menampilkan seorang teman SMA sedang menyusuri sudut-sudut kota di Hanoi, Vietnam! Semakin lama melihat koleksi fotonya semakin membuat penasaran. Selain Hanoi dia pernah ke Kuala Lumpur, Singapura dan kota-kota lain di Asia Tenggara. Saat itu saya sangat kagum sekaligus iri, bukan karena foto-fotonya yang diambil di luar negeri, namun karena senyum lepas yang memancar di setiap foto-foto liburannya seolah-olah tidak ada beban, seperti telah menemukan kebahagiaan. Di salah satu fotonya ada caption berupa kutipan dalam bahasa inggris :

“The world is like a book, those who do not travel read only one page

St. Augustine

yang secara harfiah artinya  “Dunia itu seperti buku, dia yang tidak kemana-mana hanya membaca satu halaman saja“. Dipikir-pikir ada benarnya. Saat itu jika diibaratkan buku, maka betul saya baru ada di halaman satu. Kemana saja saya selama ini? hanya kerja, pulang dan kerja lagi, begitu saja setiap hari selama tiga tahun.

Membayangkan jatah hari cuti yang selalu hangus di tiga tahun pertama bekerja, serta penurunan performa bekerja beberapa bulan terkahir hingga muncul perasaan tidak bahagia lagi dengan apa yang dikerjakan serta ditambah insiden lenyapnya tabungan selama tiga tahun karena investasi bodong, akhirnya tersadar bahwa hidup saya mulai tidak seimbang. Saya perlu istirahat, perlu alasan untuk tetap waras!

Akhirnya di awal tahu 2015 saya menemukan alasannya. Setelah mendapatkan izin cuti dari bos untuk menghabiskan sisa cuti tahun lalu, dengan semangat saya meluncur ke kantor imigrasi jakarta selatan di Mampang untuk membuat passpor pertama kalinya dalam misi yang saya beri nama project happiness, dengan target pertama Arab Saudi!

Dulu tidak ada sedikitpun penyesalan telah menghanguskan jatah cuti tahunan di tiga tahun pertama kerja, dimana para pencinta jalan-jalan di luar sana terkadang harus menjadi fakir cuti (istilah bagi karyawan yang kehabisan cuti sehingga memakai jatah cuti tahun depan di tahun ini). Sekarang setelah mengenal travelling, cuti 12 hari setahun terasa kurang! 

Tahun 2015 adalah terakhir kalinya saya membiarkan jatah hari cuti hangus, dan seperti kutipan St. Augustine di atas, tahun 2015 menjadi awal dimana akhirnya saya bisa melangkah ke halaman dua dan halaman-halaman berikutnya dalam lembaran hidup saya dengan rangkaian trip yang saya lakukan. Bisa ditebak maspakai mana yang menemani saya melalui halaman-halaman lain dalam kehidupan dari tahun 2015 hingga sekarang yang telah sedikit banyak mengubah perspektif saya yang semula hidup untuk kerja menjadi hidup seimbang, siapa lagi kalau bukan AirAsia!


Peta rute Airasia di benua Asia

AirAsia dengan 120 lebih rute penerbangannya telah berhasil membuat hidup saya lebih berwarna, lebih bahagia! Tidak pernah terbayang sedikitpun saya berhasil mengunjungi belasan negara di Asia dan Timur Tengah hingga passpor saya penuh dengan cap stempel imigrasi dan kini menyisakan satu halaman saja. Antara satu trip ke trip yang lain hampir semuanya saya lakukan dengan AirAsia, ada banyak trip yang saya lakukan dan berikut adalah review rute-rute favorit AirAsia versi saya:

1. Arab Saudi (QZ-202 | D7-172)

Terdapat rute direct Jakarta – Jeddah maupun rute connecting flight Jakarta – Kuala Lumpur – Jeddah dengan selisih harga yang tidak terlalu banyak. Saat itu tahun 2015 untuk rute connecting flight Jakarta – KL – Jeddah satu arah AirAsia membandrol harga sebesar -+ Rp3.5jt!

Pesawat dengan kode D7-172 ini terbang dari Kuala Lumpur ke King Abdulaziz International Airport di Jeddah 7x dalam seminggu. Jarak tempuh -+ 7000 km dan waktu tempuh 9 jam 30 menit. Karena termasuk rute penerbangan jarak jauh / long haul, saat itu pesawat yang digunakan adalah pesawat AirAsia X tipe Airbus A330 dengan kapasitas 377 penumpang dan pagi itu hampir semua kursi penuh!

Arab Saudi menjadi awal dari rentetan perjalanan saya dengan AirAsia dalam project happiness. Di negara ini terdapat dua kota suci umat islam, kota Mekah dan Madinah dan di dua kota itulah saya menghabiskan total 10 hari sisa cuti saya dalam rangka umroh dengan harapan dapat menemukan kedamaian dan jawaban atas pertanyan-pertanyaan yang selama ini mengganjal pada diri saya.

2. Iran (D7-776 | D7-777)

Januari 2016 saya melanjutkan misi project happiness ke negara misterius di timur tengah, Iran. Harga promo Kuala Lumpur – Tehran saat itu adalah Rp1.2jt pulang pergi, harga yang luar biasa murah dibandingkan rute searah KL ke Jeddah di tahun 2015.

Iran adalah sebuah negara di timur tengah yang berbatasan dengan banyak negara seperti Irak dan Turki di sebelah barat, Azerbaijan, Armenia dan Turkmenistan di sebelah utara serta Afganistan dan Pakistan di sebelah timur. Iran atau dulunya dikenal dengan Kerajaan Persia menurut saya adalah negara yang sangat luar biasa indah namun kurang populer akibat embargo ekonomi serta pemberitaan yang tidak benar seperti sebutan negara konflik, negara teroris, negara gurun dan banyak lagi label-label negatif lainnya yang hampir semuanya terbantahkan selama seminggu saya travelling disana. Selama seminggu saya berhasil menyusuri negara ini dari utara hingga selatan dengan macam-macam moda transportasi seperti bis malam, pesawat hingga nebeng mobil teman yang kenal lewat media sosial para backpacker yaitu couchsurfing. Selama perjalanan dari Tehran ke Isfahan lalu ke Shiraz yang merupakan ibu kota Iran di masa lampau, adalah rentetan petualangan yang penuh kejutan.

Kejutan di Iran dimulai tidak hanya ketika pesawat mendarat di Khomeini International Airport di Tehran, tapi dalam kabin pesawat selama perjalanan. Dalam kondisi lapar dan kedinginan dalam kabin pesawat, tiba-tiba pramugari Iran memberi saya satu box makanan berisi nasi dan ayam. Karena tidak merasa pesan maka saya kembalikan namun ditolak oleh pramugarinya karena ternyata di pesawat rute Kuala Lumpur – Tehran, semua penumpang mendapatkan makanan gratis 2x selama penerbangan! 

Kejuatan kedua adalah saat city tour di sebelah utara kota Tehran, tepatnya ke sebuah resort. Pertama kalinya bisa main salju dalam hidup saya terjadi bukan di pegunungan Alpen di Swis atau perkampungan Shirakawago di Jepang, tapi di ski resort bernama Tochal di pegunan Alborz, Iran! Tidak pernah terpikir Iran yang identik dengan cap negara gurun ternyata memiliki area dingin dan bersalju tebal!

Setelah Tehran, selanjutnya saya menuju ke kota Isfahan yang merupakan ibu kota Persia setelah pindah dari Shiraz. Di Isfahan saya berkunjung ke komplek masjid Al Iman yang kaya dengan arsitektur masjid khas Persia, kemudian berkunjung ke Katedral Vank dan melihat mesin cetak pertama di dunia karya ilmuan Armenia disana. Setelah Isfahan, saya melanjutkan 7 jam perjalanan ke selatan Iran melintasi gurun tandus menuju Shiraz, Ibu Kota pertama Iran ketika masih berbentuk kerjaan Persia. Di Shiraz saya punya misi mengunjungi Persipolis yang ribuan tahun lalu luluh lantak oleh tentara Yunani di bawah kaisar Alexander The Great. Di atas bukit di situs persipolis saya menyaksikan sisa reruntuhan dengan view yang sangat jelas. Setelah Persipolis, kemudian saya berkunjung ke masjid Nasr Al Mulk untuk melihat langsung bagaimana cahaya matahari pagi menembus jendela masjid kemudian berubah menjadi kilauan cahaya warna-warni yang sangat indah. 

Setiap hari selama 7 hari di Iran adalah kejutan yang tak ada habisnya. Sebelum pulang ke Indonesia, saya berjanji untuk kembali lagi ke Iran jika ada kesempatan. Sayangnya sekarang rute ini sudah tidak tersedia di website AirAsia karena embargo Amerika Serikat.

3. Macau – Hong Kong – Shenzen

Segi tiga emas Macau – Hong Kong – Shenzen akhirnya berhasil saya jelajahi juga bersama teman-teman backpacker dari Jakarta, Yogyakarta dan Batam. Namun uniknya di sini adalah,  kami tidak terbang langsung dari Jakarta ke Hong Kong, namun melalui 2 kota dan 2 negara yaitu Kuala Lumpur dan Manila karena tidak kebagian rute Airasia direct ke Hong Kong ketika program free seat berlangsung. Semua leg penerbangan kami lakukan dengan Airasia dan justru karena tidak kebagian rute direct perjalan kami menuju HongKong menjadi berkali lipat lebih seru.

4. Srilanka (AK-47)

Terdapat 7x perbangan dalam seminggu ke Colombo. Negara kecil di sebelah selatan India ini memang tidak banyak orang yang tau. Ada banyak objek wisata dunia yang terkenal di Srilanka yang tidak kalah menarik dengan negara lainnya seperti bukit batu Sigiriya, kuil di Kandy, wisata pantai colombo dan pucak Adam. Seperti namanya, di Puncak Adam ini dipercaya bahwa manusia pertama di bumi, Adam, diturunkan dari Surga. Di Srilanka juga terdapat jembatan Adam atau dikenal sebagai jembatan Rama,yang merupakan gugusan pulau-pulau kapur yang tersebar dari utara Srilanka hingga ke selatan India. Dipercaya bahwa melalui gugusan pulau-pulau kapur inlah Adam menyebrang ke India untuk mencari kekasihnya, Eve.

Srilanka menawarkan visa on arrival gratis bagi warga negara Indonesia selama jumlah hari tinggalnya tidak lebih dari 2 hari. Ada cerita unik di pos imigrasi di Bandara Colombo, kami diancam dideportasi! Ternyata ada kesalahpahaman. Petugas imigrasi menilai visa yang kami pakai yaitu visa transit tidak eligible dengan masa tinggal sehingga kami diancam dideportasi balik ke Kuala Lumpur. Namun setelah kami perlihatkan tiket terusan bahwa kami akan pulang besok pagi, akhirnya saya dan rekan-rekan diizinkan masuk Srilanka. Hingga sekarang ancaman deportasi itu masih terngiang-ngiang di telinga saya, suara yang tinggi dan wajah galak dari petugas imigrasi sebelum kami klarifikasi cukup membuat kami semua shock. Namun setelah lolos imigrasi dan menjelajahi keindahan alam Srilanka, kami tidak kapok untuk datang kembali ke negeri mungil di samudra hindia ini.

5. Filipina (AK-582)

Mabuhay! Itulah kata sapaan yang saya baca di dinding-dinding grafiti di bandara Ninoy Aquino di Manila, Filipina. Filipina ternyata tidak jauh beda dengan Indonesia. Keramahan warganya terhadap warga asing yang berkunjung ke negaranya membuat saya ketagihan untuk kembali lagi ke negara ini.

6. Vietnam (D7-192)

Dan akhirnya, Vietnam! Negara yang menjadi latar belakang foto teman SMA saya ketika liburan ke sana, akhirnya berhasil saya kunjungi. Hanoi dengan keunikan warganya dan keindahan alamnya berhasil meninggalkan kenangan yang indah selama 2 hari liburan di sana.

Dan ada banyak lagi objek wisata yang saya kunjungi bersama airasia. Setiap destinasi yang saya tuju berhasil mengukir memori indah dan membuka wawasan saya lebih luas. Ada banyak hal yang bisa disyukuri, kesedihan dan kegalauan adalah bagian dari drama kehidupan yang membuat kehidupan menjadi lebih bermakna.


Dan berita bagusnya adalah, bukan karena saya beruntung sehingga bisa jalan-jalan ke objek wisata yang disebutkan di atas, tapi karena semua orang bisa terbang, sepertinya motonya AirAsia “Now Everyone can fly”. AirAsia tidak main-main dengan komitmennya untuk bisa menerbangkan semua orang hingga motonya ditempel di semua badan pesawat! 

Komitmen AirAsia untuk bisa menerbangkan semua orang dimulai dari kemudahan membeli tiket pesawat. Kita bisa pilih pakai cara mana untuk membeli tiket pesawat AirAsia, bisa via website www.airasia.com, mobile.airasia.com atau via apps di android dan iphone. Selain  itu, AirAsia juga menawarkan kemudahan cara bayar, bisa dengan kartu kredit, debit online bahkan via indomaret atau alfamaret, hingga kemudahan dalam proses check-in dan kehangatan senyum pramugarinya yang rupawan dalam menyambut calon penumpangnya setiap kali mau onboard atau keluar pesawat. Namun yang tidak kalah penting dari semua itu adalah, program promosi kursi gratis yang rutin dilakukan tiap tahun dalam rangka AirAsia Big Sale! 

Dengan kombinasi semua itu konsumen mana yang tidak akan pilih AirAsia? 


The journey of a thousands miles begins with one step

Lao Tze

Berikut adalah hal-hal yang perlu dilakukan untuk mendapatkan pengalaman terbaik dengan AirAsia.

  1. Yang harus dilakukan pertama kali adalah buat passpor! Passpor adalah identitas seseorang di luar negeri, tanpa passpor maka tidak akan mungkin bisa pergi ke negeri orang secara legal. 
  2. Wajib punya akun AirAsia dengan cara daftar di  www.airasia.com. Setelah daftar, di menu profile, masukan data pribadi seperti nama, tanggal lahir dan nomor passpor. Di menu Family & Friends tambahkan juga data pribadi keluarga dan teman, tujuannya supaya tidak kehabisan waktu ketika mengisi data penumpang.
  3. Di menu Bigpay checkout, untuk pembayaran cepat khususnya dengan mata uang rupiah, simpan informasi kartu debit/kredit berlogo visa/mastercard/JCB di akun AirAsia. Dijamin aman karena website AirAsia sudah 3D Secure sehingga walaupun data kartu kredit/debit tersimpan di website, untuk melakukan transaksi tetap memerlukan kode token yang dikirim ke nomor HP pemilik kartu kredit. Kode token ini tidak mungkin nyasar ke nomor lain jadi sangat aman! Selain debit online/ kartu kredit, pembayaran juga bisa via internet banking BRI, CIMB Niaga, Danamon, BCA dan Bank Muamalat. Nggak punya kartu bank? jangan khawatir, pembayaran bisa melalui gerai Alfamart dan Indomaret terdekat.
  4. Follow akun Facebook, Instagram dan Twitter resmi Airasia untuk informasi promo terbaru. Selain itu, tambah kenalan dengan bergabung di komunitas jalan-jalan seperti Backpacker Internasional/Dunia, terkadang informasi promosi terbaru muncul lebih dulu di forum tersebut.
  5. Siap begadang! Program freeseat Airasia biasanya dimulai pukul 23:00 WIB atau 24:00 waktu Kuala Lumpur.

Selain itu, sebelum berburu tiket murah, susun rencana itinerary perjalanan, sesuaikan dengan rute AirAsia khususnya rute promo dan siapkan rute alternatif untuk jaga-jaga jika kehabisan tiket karena akan ada ratusan ribu hingga jutaan orang yang berburu tiket AirAsia di saat yang bersamaan. Dan yang tidak kalah penting, pastikan koneksi internet lancar!

AirAsia sangat agresif dalam memberikan promo-promo bagi konsumennya. Tahun 2019 saja Airasia sudah 4 kali mengadakan Free Seat dalam rangka AirAsia Big Sale pada bulan Maret, Juni, September dan November 2019 dengan periode terbang tahun 2020. Dalam sekali promo, AirAsia biasanya menawarkan jutaan kursi gratis, dimana kita hanya perlu membayar airport tax saja, harga tiketnya Nol rupiah!

Airasia menyediakan berbagai macam channel pembayaran untuk 18 mata uang di Asia, Australia dan Amerika Serikat. Berikut adalah empat mata uang yang sering saya gunakan untuk pembelian tiket Airasia:

Berbagai macam channel pembayaran di Indonesia telah terintegrasi dengan payment gateway Airasia khususnya untuk pembayaran dengan mata uang rupiah: bisa dengan transfer ATM, kartu kredit/debit berlogo Visa, Mastercard, JCB atau American Express, pembayaran melalui internet banking bahkan pembayaran di outlet Indomaret dan Alfamaret!

Penting untuk diketahui, untuk pembayaran dengan mata uang selain rupiah (biasanya ketika akan membeli tiket terusan dari Kuala Lumpur ke negara lain atau sebaliknya) hanya kartu kredit / debit berlogo Visa, Mastercard, JCB, American Express dan UnionPay yang bisa digunakan untuk menyelesaikan pembayaran, channel internet banking seperti BRI Internet Banking, CIMB Clicks (Niaga), BCA KlikPay, Danamon Online, IB Muamalat termasuk transfer via ATM hanya bisa digunakan dalam mata uang rupiah.

Namun kabar baiknya, sebentar lagi Airasia akan meluncurkan produk BigPay di Indonesia sebagai pesaing OvoPay dan Gopay. Mudah-mudahan dengan adanya AirAsia BigPay, pembayaran dengan mata uang selain rupiah menjadi semakin mudah.


Dalam dunia travelling, check-in adalah sesuatu yang cukup membosankan, apalagi jika antriannya panjang dan mengular. Tapi tidak dengan Airasia karena Airasia hadir dengan fitur self check-in yang bisa dilakukan via website atau via aplikasi di ponsel android / iphone. Namun walaupun Airasia menyediakan fitur self check-in, terdapat peraturan  yang harus dipahami sbb:

Pesawat AirAsia AK / FD / QZ / PQ / JW

Pesawat AirAsia X D7 flights


Artinya adalah self check-in bisa dilakukan 14 hari sebelum keberangkatan untuk semua jenis pesawat Airasia termasuk Airasia X. Namun penting untuk menjadi perhatian, khusus untuk Airasia X, mobile/web check-in tutup empat jam sebelum terbang!

Web check-in bisa dilakukan via browser di ponsel/komputer dengan cara klik halaman web check-in di https://www.airasia.com/check-in/en/gb kemudian ikuti lima langkah web check-in sesuai instruksi.

Untuk lebih detail dapat dilihat di sini.

*Khusus untuk penumpang yang hamil, penumpang yang membawa bayi usia <  8 hari, penumpang yang memiliki kondisi kesehatan khusus harus check-in di bandara.

Demi bisa liburan dengan budget seminimal mungkin, biasanya penerbangan yang didapat dari hasil berburu tiket promo adalah penerbangan paling pagi atau paling malam karena tiket paling murah di jam tersebut. Di jam-jam tersebut terkadang lupa makan sehingga rawan masuk angin apalagi jika penerbangannya lumayan lama di dalam kabin pesawat yang ber-AC. Walaupun AirAsia adalah pesawat berbiaya hemat, untungnya AirAsia tetap menyediakan pilihan menu makan yang beragam, setiap rute punya menu khasnya, seperti rute pesawat Airasia Indonesia (QZ) dan Airasia X Indonesia (XT) berikut:

Salah satu favorit saya adalah Nasi Lemak Pak Nasser! Selain Nasi Lemak Pak Nasser, ada banyak menu meal of board lainnya, tiap rute punya menu khasnya masing-masing:

 

  • Nasi Lemak Pak Nasser

    Menu wajib saya jika terbang dalam keadaan lapar. Harganya Rp55.000. Tidak hanya keramahan pramugarinya yang membuat kangen terbang dengan AirAsia, tapi juga nasi lemaknya. Melihat gambarnya saja ngiler, bagaimana mencicipinya langsung!
  • Nasi Ayam Uncle Chin

    Jika kehabisan nasi lemak pak nasser, alternatifnya adalah nasi ayam uncle chin. Harganya juga sama, Rp55.000. Rasa dijamin nggak kalah enaknya dengan nasi lemak.

Pemesanan menu bisa dilakukan di dalam pesawat, atau pre-book ketika check-in online atau ketika pemesanan tiket. Perut kenyang, hati senang, pokoknya bahagia terbang bersama AirAsia!

Karena satu dan lain hal, terkadang kita tidak jadi terbang sehingga tiket pesawat hangus. Dengan AirAsia, airport tax atau PSC (Passanger Service Charge) bisa diklaim! Pengembalian airport tax bisa dalam bentuk credit Shell atau refund ke rekening Bank. Jika batal terbang, saya biasanya refund ke credit shell karena selain proses refund jauh lebih cepat, credit shell yang terkumpul dapat digunakan untuk pembayaran tiket Airasia / produk Airasia seperti santan, bagasi, asuransi perjalanan atau pilih kursi tanpa dikenakan biaya pemrosesan / processing fee.

Proses refund Airport tax Airasia sudah pernah saya bahas di postingan di sini.

Dengan keseimbangan yang baik antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, maka bekerja akan lebih produktif, lebih kreatif dan suasana hati menjadi lebih bahagia. Travelling adalah salah satu cara untuk membuat pekerjaan dan kehidupan pribadi seimbang. Dan bagaimana caranya mewujudkan travelling murah dan berkualitas tanpa menambah beban pikiran? tentunya dengan AirAsia!

Project Happiness adalah tentang pencarian kebahagiaan, dan bersama AirAsia proyek itu tercapai. Terima kasih AirAsia.

Referensi:

Travel vector created by freepik – www.freepik.com

Share

You may also like...